Home » 3 Jenis Orang Utan yang Ada di Indonesia, Hampir Punah?

3 Jenis Orang Utan yang Ada di Indonesia, Hampir Punah?

oleh tukang konten
3 Jenis Orang Utan dan Kehidupannya di Indonesia

Orang utan merupakan satwa yang mempunyai kekerabatan paling dekat dengan manusia. Hal ini dilihat dari 96,4% materi genetik yang ia miliki sama dengan manusia. Kemudian satwa ini merupakan jenis hewan omnivora yang hidup di di hutan.

Makanan yang banyak dikonsumsi adalah buah-buahan, kulit pohon, daun-daunan dan bunga. Satwa ini juga suka membuat sarang di atas pohon yang digunakan sebagai tempat istirahat di malam dan siang hari. Di Indonesia tersebar beberapa jenis satwa ini. Apa saja? Berikut rangkumannya.

Spesies Orang Utan yang Ada di Indonesia

1. Orang Utan Sumatera

Orang Utan Sumatera
Source: goodnewsfromindonesia.com

Sesuai dengan namanya, jenis orang utan pertama ini berasal dari Pulau Sumatera. Habitatnya adalah hutan hujan tropis dataran rendah dan pegunungan yang didominasi pohon Dipterocarpaceae yang tinggi sehingga sangat suka hidup bergelantungan di atas pepohonan.

Ciri fisik yang dimiliki orang utan berasal dari Sumatera adalah bulu yang tebal, panjang dan berwarna coklat hingga jingga. Tubuhnya mempunyai tinggi sekitar 1,25 hingga 1,5 meter. Ciri fisik yang dimiliki oleh jantan adalah dagu panjang dan kantung pipi menggelambir ke bawah dan berat badannya 50-90 kg.

Betinanya mempunyai bobot berat badan lebih ringan yaitu 30-50 kg. Memasuki umur 3,5 tahun, anak-anaknya mulai hidup mandiri secara bertahap, dan kemampuan reproduksi akan dimulai pada umur 10-11 tahun dengan rata-rata usia yang paling produktif adalah saat berumur 15 tahun.

Makanan yang sangat disukainya adalah buah-buahan seperti durian, mangga, nangka, leci, buah ara dan masih banyak lagi. Selain itu juga menyukai pucuk daun-daun muda, beberapa jenis serangga, kulit pepohonan, telur, hingga vertebrata berukuran kecil.

Untuk menunjukkan kemampuan intelegensinya, satwa ini menggunakan ranting pohon untuk mengambil buah-buahan atau makanan yang sulit dijangkau. Ini juga yang membuktikan bahwa mereka mempunyai kemiripan dengan manusia dalam segi cara berpikir atau tingkat intelegensi.

2. Orang Utan Borneo

Orang Utan Borneo
Source: internationalanimalrescue.co.id

Orang utan Borneo juga sering disebut dengan orang utan Kalimantan. Jenis satwa ini berasal dari Pulau Kalimantan dan hidup tersebar di sana. Ciri fisik yang dimiliki oleh Orang utan Borneo berbeda dengan Orang utan Sumatera.

Orang utan Borneo merupakan hewan arboreal yang paling besar di dunia. Mempunyai bulu rambut yang panjang dan kusut serta berwarna gelap kecoklatan. Warna wajahnya mulai merah muda, merah, hingga hitam. Berat jantan dewasa bisa mencapai 50-90 kg dan berat betina dewasa bisa mencapai 30-50 kg.

Tinggi tubuhnya berkisar antara 1,25 meter hingga 1,5 meter. Selain itu juga mempunyai jakun yang bisa digelembungkan untuk mengeluarkan suara yang khas, yang digunakan untuk memanggil dan mencari tahu keberadaan sesamanya.

Selain ciri fisik tersebut, kebiasaan orang utan Borneo juga berbeda. Mereka lebih suka menghabiskan waktu di dahan dan ranting pohon yang rendah kemudian turun ke tanah daripada bergelantungan di atas ranting pohon yang tinggi.

Banyak ditemukan di dataran rendah yang berpusat di kawasan hutan dan lahan gambut karena di sana banyak ditumbuhi buah-buahan berukuran besar yang merupakan makanan kesukaannya. Kemudian juga menyukai pucuk dedaunan, biji-bijian, kulit pepohonan dan juga berbagai jenis serangga.

3. Orang Utan Tapanuli

Orang Utan Tapanuli
Source: kabarlumajang.pikiran-rakyat.com

Jenis orang utan berikut ini merupakan spesies baru yang hanya ditemukan di daerah Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada tahun 2017. Orang yang pertama kali menemukannya adalah seorang ahli bioantropologi dari Australia National University yaitu Profesor Anton Nurcahyo.

Profesor Anton Nurcahyo sudah melakukan penelitian terkait spesies baru satwa jenis ini dari tahun 2003 silam. Sudah ada sekitar 800 individu orang utan Tapanuli yang hidup sampai sekarang. Namun, menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature) populasi spesies ini sudah terancam punah.

Morfologi atau bentuk tubuh yang khas dari satwa ini adalah mempunyai bantalan pipi yang sangat mirip dengan Orang utan Borneo. Tubuhnya lebih mirip dengan Orang utan Sumatera dengan bulu rambut yang tebal dan keriting serta adanya kumis dan jenggot yang menonjol.

Bantalan pipi tersebut berbentuk datar dengan rambut yang lebih halus dan berwarna pirang. Pejantan usia dewasa mempunyai ukuran tengkorak lebih kecil dan taring yang lebih besar. Kemudian rambutnya lebih kusut dan teriakan yang dihasilkan lebih panjang.

Kehidupan Orang Utan di Indonesia

Kehidupan Orang Utan di Indonesia
Source: detik.com

Seluruh jenis orang utan di atas hidup dan berkembang di Indonesia. Satwa ini banyak menghabiskan hidupnya tinggal di atas pohon dan kawasan hutan yang mempunyai pasokan makanan berlimpah. Mereka bisa menghabiskan 95 persen waktunya dalam satu hari di atas pohon.

Semua aktivitas lebih banyak dilakukan dari atas pohon, seperti makan, minum dan tidur. Perpindahan tempat hanya dilakukannya dari pohon ke pohon. Waktu makan yang dihabiskan selama sehari sebanyak lima kali waktu makan.

Mereka makan dengan menggunakan ranting pohon untuk menyendok makanan. Contohnya adalah ketika mereka menggunakan ranting pohon untuk mengeluarkan serangga dari pohon lalu menyantapnya.

Ukuran tubuh jantan lebih besar daripada betina. Berat badan jantan bisa mencapai 150 kg, sedangkan berat badan betina hanya setengahnya. Kaki mereka yang panjang dan sempit mereka gunakan untuk bergelantungan dari pohon yang satu ke pohon lainnya.

Ciri lainnya dari satwa ini adalah:

  • Mempunyai rentang lengan yang sangat lebar dan bisa mencapai 2 meter
  • Tinggi badan rata-rata adalah 1,25 meter hingga 1,5 meter
  • Sepertiga populasinya tidak mempunyai kuku pada jempol kaki
  • Sekitar 97% DNA yang dimiliki hampir sama dengan manusia
  • Sanggup makan hingga 5 kali dalam satu hari
  • Populasinya terus menurun sebanyak 25 individu setiap harinya

Populasi di Indonesia

Populasi di Indonesia
Source: bobo.grid.id

Hingga saat ini, populasi satwa ini semakin menurun. Kira-kira 50 persen populasi yang sudah menyusut. Spesies yang paling banyak tersebar di Indonesia adalah Orang utan Sumatera (Pongo abelii), Orang utan Borneo (Pongo pygmaeus) dan Orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).

Pada tahun 2016 menurut hasil Population and Habitat Viability Analysis (PHVA), jumlah satwa ini diperkirakan sebanyak 71820 individu yang ada di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan, mereka tersebar dalam habitat seluas 18.169.200 hektar.

Populasi tersebut termasuk ke dalam 52 meta populasi dan diperkirakan hanya 38% diantaranya saja yang akan lestari dalam kurun waktu 100 hingga 500 tahun ke depan. Kemungkinan tiap tahunnya pun jumlah satwa ini akan terus menurun dengan adanya perburuan dan kebakaran hutan.

Kemudian hasil analisis PHVA lainnya menyebutkan bahwa orang utan Borneo mempunyai angka minimum populasi yang bertahan hidup adalah sebanyak 200 individu dengan kemungkinan kepunahan kurang dari 1% dalam waktu 100 tahun, kurang dari 10% dalam waktu 500 tahun.

Sebanyak 500 individunya akan menjaga kualitas dan variasi genetika yang muncul tiap tahunnya. Sehingga akan banyak meta populasi orang utan Borneo yang terfragmentasi membutuhkan keterhubungan dengan meta populasi lainnya.

Satwa yang Terancam Punah

Terancam Punah
Source: orangutan.or.id

Terkait dengan kondisi populasinya di atas, satwa ini terancam punah. Populasi mereka selalu turun tiap tahun sehingga menyebabkan perubahan status konservasi dari IUCN. Penyebab kepunahan satwa ini adalah deforestasi dan rusaknya kondisi habitat karena konservasi hutan untuk dijadikan lahan lain.

Selain itu, perburuan liar juga menjadi penyebab kepunahan satwa ini. Tidak jarang menjadi target yang mudah untuk diburu karena pergerakannya yang lambat dan tubuhnya yang besar. Banyak sekali indukannya yang diambil oleh pemburu lalu dijadikan hewan peliharaan.

Kemudian setelah diburu, mereka dikirim ke negara-negara yang menerima impor satwa ilegal. Salah satunya adalah Taiwan. Taiwan menjadi negara yang paling banyak menerima impor satwa peliharaan. Kondisi ini terjadi untuk setiap spesiesnya. 

Tidak hanya itu, angka reproduksinya yang rendah juga menjadi alasan kepunahan satwa ini. Induknya hanya akan melahirkan satu individu baru setiap 3 sampai 5 tahun sekali. Sehingga untuk pemulihan jumlah orang utan akan sangat sulit.

Punahnya satwa ini tentunya akan berdampak pada spesies satwa lainnya yang hidup di hutan. Karena satwa ini dijuluki sebagai “tukang kebun” di hutan karena seringkali memakan dedaunan sehingga dapat membersihkan kondisi hutan dan selalu aman bagi spesies lain yang hidup di sana.

Sedikit seputar orang utan yang merupakan satwa langka yang patut dilestarikan. Keseimbangan ekosistem pun akan terjaga apabila jumlah dan populasinya stabil sehingga kehidupan satwa lainnya juga akan saling terjaga dan saling melengkapi.

Anda mungkin juga menyukai

Tinggalkan Komentar